Antara Dilema, Takut, dan Galau Mengadakan Event

Aku terlahir di sebuah kelurga kecil di Klaten. Mungkin kamu sangat asing dengan daerah tersebut, tapi ketahuilah, Klaten merupakan penghubung antara dua kota bersejarah yang cukup terkenal di Indonesia, Solo dan Yogya. Sehingga daerahku sangat sering sekali menjadi komuter atau istilahnya tempat singgah oleh beberapa traveler baik dari mancanegara ataupun domestik.

Antara dilema dan galau

Di Desaku masih menganut yang namanya Karang Taruna. Kebetulan untuk dua tahun kedepan aku ditunjuk sebagai ketuanya. Ya, walaupun gak rela sih karena memang aku belum siap menjadi seorang pemimpin. Kendalanya sebenarnya cuman satu, aku nggak pandai pidato, ngomong saja kadang salah, apalagi harus merangkai sebuah kata hingga berjam-jam.

Pada awalnya aku cuek akan masalah tersebut. Namun lama-kelamaan aku mulai menemukan masalah baru. Ketika itu, desaku hendak mengelar sebuah acara pengajian yang mana pemuda diberikan mandat menjadi panitia. Tentu kan ketuanya harus menjadi ketua panitia. Disinilah rasa dilema, takut, dan gelisah mulai menghantuiku.

Sebagai seorang pemuda nubi (sebutan untuk para pemula), aku nggak faham betul apa itu RAB, proposal, dan sebagainya. Setauku ya mengadakan suatu event di desa minta iuran warga kemudian ngundang ustadz beres. Namun ternyata nggak sesimpel itu. apalagi saat itu ustad yang diundang berlevel Nasional. Tentu dong undangannya musti banyak! Duh mumet.

Itulah sedikit kisah kegalauan yang aku alami saat ini. Ini hanya artikel coretan diary saja, jadi jangan diambil pusing. Cerita selanjutnya akan saya sambung lagi.